Dari Gerakan Pemuda, Bank Sampah, hingga Perjuangan Iklim: Bahtiar Menginspirasi Mahasiswa KKN di Desa Selemak
DELI SERDANG [{BSOnline] — Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 17 Universitas Al-Azhar Medan di Desa Selemak, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, tidak hanya menjadi bagian dari agenda pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Di tengah proses pemetaan persoalan sosial dan potensi masyarakat desa, para mahasiswa menemukan sosok penggerak lingkungan yang telah membangun kepedulian dari tingkat masyarakat, yakni Bahtiar, yang akrab disapa Pakkept.
Bahtiar dikenal sebagai salah satu tokoh masyarakat sekaligus penggerak lingkungan hidup di Desa Selemak. Melalui berbagai kegiatan sosial, kemasyarakatan, kepemudaan, hingga pengelolaan Bank Sampah SMJ (Selemak Maju Jaya), ia berupaya mendorong masyarakat agar menjadikan penyelamatan lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bagi Bahtiar, lingkungan bukan sekadar persoalan kebersihan. Kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan dan ruang hidup bagi generasi yang akan datang. Karena itu, gerakan penyelamatan lingkungan menurutnya perlu dibangun melalui kesadaran, pendidikan, pengorganisasian, dan keterlibatan masyarakat secara luas.
Berawal dari Gerakan Pemuda
Perjalanan Bahtiar dalam menggerakkan masyarakat ternyata memiliki akar yang cukup panjang. Sejak 2013, Bahtiar menjadi salah satu penggagas Komunitas Robebes, sebuah wadah yang dibangun untuk menggerakkan pemuda di Desa Selemak agar terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Robebes menjadi salah satu ruang bagi pemuda Desa Selemak untuk berkumpul, berdiskusi, berkolaborasi, serta mengambil bagian dalam kegiatan yang menyentuh kepentingan masyarakat. Dari ruang kepemudaan tersebut, tumbuh semangat untuk mendorong anak-anak muda agar tidak hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan mereka.
Pengorganisasian pemuda melalui Robebes kemudian menjadi salah satu modal sosial dalam perjalanan gerakan yang dibangun Bahtiar. Kepedulian terhadap persoalan sosial secara perlahan berkembang menjadi perhatian terhadap persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah dan pentingnya membangun budaya penyelamatan lingkungan.
Jejak tersebut memperlihatkan bahwa gerakan lingkungan di Desa Selemak tidak lahir secara tiba-tiba. Ada proses panjang dalam membangun kesadaran, memperkuat solidaritas pemuda, dan mengorganisasi masyarakat sebelum kemudian berkembang menjadi berbagai inisiatif lingkungan.
Pertemuan dengan Mahasiswa KKN
Perjalanan tersebut kemudian beririsan dengan kehadiran mahasiswa KKN Kelompok 17 Universitas Al-Azhar Medan di Desa Selemak.
Mahasiswa KKN berada di Desa Selemak sejak 1 hingga 31 Agustus 2026 di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Sukarsih, S.E., M.M. Sejak awal kedatangan, mahasiswa melakukan serah terima dengan perangkat desa, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta melakukan pemetaan terhadap berbagai persoalan sosial, potensi UMKM, kebutuhan edukasi, komunitas, dan kelompok masyarakat yang dapat diajak berkolaborasi.
Salah satu kegiatan silaturahmi dan observasi wilayah tersebut berlangsung di lokasi Bank Sampah Selemak Maju Jaya, tepatnya di kawasan rumah Bahtiar, pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut menjadi lebih dari sekadar kegiatan observasi. Mahasiswa menemukan praktik pemberdayaan masyarakat yang tumbuh dari inisiatif lokal dan telah dijalankan melalui proses yang panjang.
Dari rangkaian diskusi, mahasiswa KKN terinspirasi oleh gerakan yang dibangun Bahtiar. Pengalaman tersebut memberikan perspektif bahwa persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan hanya dengan kegiatan bersih-bersih atau kampanye sesaat, tetapi membutuhkan proses membangun kesadaran dan keterlibatan masyarakat secara terus-menerus.
Bahtiar pun mengapresiasi keaktifan dan inisiatif mahasiswa KKN selama menjalankan pengabdian di Desa Selemak. Menurutnya, keterlibatan generasi muda, termasuk mahasiswa, sangat penting dalam memperkuat gerakan sosial dan lingkungan di tengah masyarakat.
Bank Sampah sebagai Ruang Pendidikan Lingkungan
Di tengah gerakan tersebut, Bank Sampah Selemak Maju Jaya menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan Bahtiar mengembangkan kepedulian lingkungan.
Bank sampah tidak hanya dipandang sebagai tempat pengumpulan sampah yang memiliki nilai ekonomi. Lebih dari itu, keberadaannya menjadi sarana untuk membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat dalam memandang sampah dan lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat didorong untuk memahami bahwa sampah merupakan persoalan bersama yang membutuhkan perubahan perilaku. Dari rumah tangga hingga lingkungan desa, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Di titik inilah gerakan Bahtiar bersinggungan dengan semangat pengabdian mahasiswa KKN. Mahasiswa membawa perspektif akademik, sementara Bahtiar dan masyarakat membawa pengalaman serta pengetahuan lokal yang diperoleh melalui proses panjang di lapangan.
Pertemuan keduanya menjadi bentuk sinergi antara insan akademisi dan masyarakat pedesaan dalam membangun kesadaran sosial dan lingkungan.
Robebes dan Kekuatan Pemuda Desa
Kehadiran komunitas Robebes, yang salah satu penggagasnya adalah Bahtiar sejak 2013, turut memperkuat kolaborasi tersebut.
Pengalaman Robebes dalam menggerakkan pemuda menjadi modal penting ketika mahasiswa KKN berkolaborasi dengan masyarakat dalam berbagai kegiatan. Pemuda tidak ditempatkan sekadar sebagai peserta, tetapi menjadi bagian dari proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.
Semangat tersebut terlihat dalam rangkaian kegiatan Gebyar HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Selemak. Mahasiswa KKN Universitas Al-Azhar Medan bertindak sebagai fasilitator dan panitia pendamping bersama para pemuda Karang Taruna Desa Selemak.
Kegiatan dirancang dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Momentum kemerdekaan kemudian menjadi ruang untuk memperkuat semangat nasionalisme, gotong royong, kebersamaan, sekaligus mempererat tali silaturahmi.
Komunitas Robebes juga menjadi bagian dari kolaborasi tersebut, bersama mahasiswa KKN dan elemen kepemudaan desa.
Dari Nasionalisme Menuju Kesadaran Lingkungan
Rangkaian kegiatan sosial dan kepemudaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak berdiri sendiri. Kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh dari budaya gotong royong, kepedulian sosial, dan keterlibatan aktif masyarakat.
Bagi Bahtiar, pengorganisasian masyarakat menjadi bagian penting dari proses tersebut. Masyarakat perlu memiliki ruang untuk terlibat, menyampaikan gagasan, dan mengambil keputusan terhadap persoalan yang mereka hadapi sendiri.
Karena itu, pengalaman Bahtiar sejak menggerakkan pemuda melalui Robebes hingga mengembangkan gerakan lingkungan dan Bank Sampah Maju Jaya menjadi pembelajaran tersendiri bagi mahasiswa KKN.
Kehadiran mahasiswa di Desa Selemak pada akhirnya bukan hanya tentang menjalankan program kerja. Mereka juga belajar bahwa desa memiliki tokoh, komunitas, pengalaman, dan gerakan yang telah tumbuh jauh sebelum kedatangan mereka.
Sebaliknya, kehadiran mahasiswa memberikan kesempatan bagi gerakan lokal tersebut untuk mendapatkan energi baru melalui kolaborasi, pengetahuan akademik, serta keterlibatan generasi muda.
Menjaga Lingkungan untuk Anak Cucu
Apa yang dilakukan Bahtiar bersama masyarakat Desa Selemak memperlihatkan bahwa gerakan lingkungan membutuhkan perjalanan panjang. Mengelola sampah, membangun kesadaran warga, menggerakkan pemuda, dan membangun budaya peduli lingkungan merupakan bagian dari proses yang saling berkaitan.
Di balik aktivitas Bank Sampah Maju Jaya, terdapat gagasan yang lebih besar: membangun kebiasaan masyarakat untuk menjaga lingkungan bukan hanya untuk kepentingan hari ini, tetapi juga untuk anak dan cucu yang akan datang.
Dalam konteks perubahan iklim yang semakin menjadi perhatian dunia, gerakan berbasis masyarakat seperti yang dibangun Bahtiar menunjukkan bahwa upaya menjaga bumi juga dapat dimulai dari tingkat desa.
Dari gerakan pemuda yang dirintis sejak 2013, berkembang ruang sosial melalui Robebes, kemudian tumbuh kepedulian terhadap lingkungan hingga hadirnya Bank Sampah Maju Jaya. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita panjang tentang bagaimana perubahan dapat dibangun dari masyarakat sendiri.
Pertemuan Bahtiar dengan mahasiswa KKN Universitas Al-Azhar Medan pada Agustus 2026 menjadi salah satu mata rantai dari perjalanan tersebut.
Dan cerita itu belum selesai.
Di balik Bank Sampah Maju Jaya masih tersimpan perjalanan panjang Bahtiar dalam mengorganisasi masyarakat, membangun kesadaran lingkungan, menggerakkan generasi muda, serta memperjuangkan masa depan lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim. Perjalanan itulah yang menjadi pintu bagi kisah berikutnya.

0 Komentar