TIMOR TENGAH UTARA [BSOnline] — Perjalanan inovasi pertanian berbasis lingkungan dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, kini bergerak melampaui batas daerah. Para petani dari Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mendapat kesempatan mempelajari praktik pemanfaatan eco-enzyme yang dikembangkan dan didampingi oleh petani, penyuluh serta pemangku kepentingan pertanian di TTU.
Dalam kegiatan pelatihan yang berlangsung hari ini, Jumat (27/7/2026), Dinas Pertanian, penyuluh dan petani Kabupaten TTU berbagi pengetahuan mengenai pemanfaatan eco-enzyme untuk pertanian. Materi yang diperkenalkan tidak berhenti pada pembuatan eco-enzyme, tetapi juga mencakup NPK cair berbasis eco-enzyme dan kompos eco-enzyme.
Pertukaran pengetahuan tersebut menjadi menarik karena mempertemukan dua daerah dengan karakter dan pengalaman pertanian yang berbeda. Pesisir Selatan datang membawa pengalaman pengembangan pertanian di Sumatera Barat, sementara TTU menawarkan pengalaman lokal dalam mengolah limbah organik menjadi bagian dari sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Di tengah persoalan biaya produksi, ketergantungan terhadap input dari luar daerah, persoalan limbah organik dan tuntutan agar pertanian semakin berkelanjutan, praktik sederhana semacam ini mulai mendapat perhatian.
Dari limbah dapur menjadi input pertanian
Eco-enzyme pada dasarnya merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik, terutama sisa buah dan sayuran, yang dalam praktik komunitas digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pengelolaan lingkungan dan pertanian.
Di TTU, gagasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi praktik yang lebih dekat dengan kebutuhan petani. Limbah organik tidak semata dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai bahan yang dapat diolah kembali.
Konsep ini sejalan dengan pendekatan ekonomi sirkular: sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dikembalikan ke dalam siklus produksi.
Yayasan Nusa Timor Mandiri (YNTM) juga tercatat sebagai salah satu pihak yang mendukung penguatan kapasitas petani dalam produksi eco-enzyme untuk pupuk organik, pestisida dan pengolahan limbah.
Bahkan, praktik eco-enzyme di TTU bukan gagasan yang baru muncul. Dalam pertukaran pengetahuan TTU–Pesisir Selatan pada Mei 2026, eco-enzyme disebut telah diterapkan dalam pertanian di sejumlah desa di TTU, termasuk untuk budidaya padi di Kecamatan Biboki Anleu dan Desa Kiuola.
Dalam forum tersebut, pengalaman lokal TTU menunjukkan adanya peningkatan produksi di lokasi tertentu setelah penerapan eco-enzyme. Salah satu contoh yang disampaikan adalah produksi padi yang disebut meningkat dari sekitar 3,7 ton per hektare menjadi 7–8 ton per hektare dan dalam periode penerapan lebih panjang dilaporkan mencapai 13 ton per hektare. Angka tersebut merupakan data pengalaman lapangan yang dipaparkan dalam forum pertukaran pengetahuan, sehingga tetap penting untuk dibaca sebagai hasil praktik lokal, bukan sebagai bukti bahwa eco-enzyme otomatis menghasilkan peningkatan serupa di semua lahan.
Di sinilah nilai penting dari proses belajar antarpetani: pengalaman lapangan dapat dibagikan, tetapi keberhasilannya tetap perlu diuji sesuai jenis tanah, tanaman, dosis, cuaca dan pola budidaya masing-masing daerah.
Kini giliran Pesisir Selatan belajar dari TTU
Pertemuan petani TTU dan Pesisir Selatan bukanlah pertemuan yang berdiri sendiri.
Sebelumnya, kedua daerah telah terlibat dalam agenda knowledge exchange yang mempertemukan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, kelompok tani, organisasi masyarakat sipil, akademisi dan mitra pembangunan.
Kegiatan tersebut difasilitasi melalui program SDGs-SSTC dan melibatkan 71 peserta dari Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur. Dua inovasi lokal menjadi perhatian utama: Eco-Enzyme dari TTU dan Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT) dari Pesisir Selatan.
Artinya, hubungan kedua daerah bukan sekadar pola “yang satu mengajari dan yang lain belajar”. Ada pertukaran pengalaman dua arah.
Pesisir Selatan memiliki pengalaman dengan teknologi budidaya yang dapat menghemat biaya dan menjaga kondisi tanah, sedangkan TTU membawa pengalaman mengolah limbah organik dan mengintegrasikannya dengan praktik pertanian.
Pertemuan langsung seperti yang berlangsung hari ini berpotensi membawa kerja sama tersebut ke tingkat yang lebih praktis: petani melihat, mencoba, berdiskusi dan kemudian menyesuaikannya dengan kondisi lahan masing-masing.
Dari eco-enzyme ke NPK cair dan kompos
Materi pelatihan yang mencakup NPK cair eco-enzyme dan kompos eco-enzyme menunjukkan bahwa inovasi yang dibangun tidak hanya berhenti pada produk cair hasil fermentasi.
Bagi petani, persoalan paling penting bukan sekadar menghasilkan eco-enzyme, tetapi bagaimana produk tersebut masuk secara tepat ke dalam sistem budidaya.
Petani membutuhkan nutrisi tanaman, bahan organik untuk tanah, pengelolaan limbah, serta biaya produksi yang masuk akal.
Karena itu, pengembangan pupuk organik berbasis bahan lokal dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap sebagian input eksternal.
Namun, pendekatan ini tidak berarti bahwa pupuk kimia harus langsung ditinggalkan seluruhnya. Kebutuhan nutrisi tanaman harus dihitung berdasarkan komoditas, kondisi tanah dan hasil analisis yang memadai.
Penelitian mengenai eco-enzyme juga memberikan gambaran yang cukup beragam. Studi Universitas Jambi yang diterbitkan dalam Jurnal Agronomi Indonesia menemukan bahwa pemberian eco-enzyme pada tanaman pakcoy dapat merangsang pertumbuhan, dengan perlakuan tertentu menunjukkan hasil optimal pada konsentrasi 30 ml per liter dan aplikasi dua kali seminggu dalam kondisi penelitian tersebut.
Penelitian lain di Universitas Sumatera Utara dan BRIN terhadap tanaman sorgum juga menguji penggunaan eco-enzyme sebagai pupuk cair. Studi tersebut menempatkan eco-enzyme dalam konteks upaya meningkatkan efisiensi pemupukan, termasuk ketika dikombinasikan dengan pengurangan dosis NPK.
Temuan-temuan akademik itu penting karena memberikan satu pesan: eco-enzyme memiliki potensi, tetapi penggunaannya harus berbasis dosis, komoditas dan kondisi lapangan.
Dengan demikian, pelatihan kepada petani sebaiknya tidak hanya mengajarkan cara membuatnya, tetapi juga bagaimana menggunakannya secara tepat dan aman.
Tomat dan sayuran eco-enzyme mulai menuju pasar
Salah satu perkembangan menarik dari gerakan pertanian berbasis eco-enzyme di TTU adalah mulai munculnya produk hortikultura dari petani binaan YNTM.
Tomat eco-enzyme dan sayuran eco-enzyme binaan YNTM TTU mulai diarahkan untuk masuk pasar.
Ini merupakan tahapan penting.
Sebab, keberhasilan pertanian berkelanjutan tidak cukup diukur dari seberapa banyak petani mampu membuat pupuk sendiri. Pertanyaan berikutnya adalah: apakah hasil pertanian tersebut mampu menghasilkan pendapatan?
Petani harus mendapatkan manfaat ekonomi.
Jika sayuran yang dibudidayakan dengan pendekatan ramah lingkungan dapat diterima konsumen, maka muncul rantai nilai baru:
limbah organik → eco-enzyme → input pertanian → tanaman → produk pangan → pasar.
Rantai tersebut sekaligus mempertemukan tiga persoalan yang selama ini sering dipisahkan: persoalan sampah, persoalan pertanian dan persoalan ekonomi petani.
Namun, masuk pasar juga berarti produk harus memenuhi standar yang lebih tinggi. Konsistensi kualitas, keamanan pangan, kebersihan, pengemasan, umur simpan, kontinuitas pasokan dan kejelasan klaim produk menjadi pekerjaan berikutnya.
Label “eco-enzyme” tidak dengan sendirinya membuat sebuah produk menjadi lebih sehat atau lebih aman. Klaim seperti “organik”, “bebas pestisida” atau klaim kesehatan tertentu harus mengikuti ketentuan dan pembuktian yang berlaku.
Tantangan terbesar bukan membuat eco-enzyme
Membuat eco-enzyme relatif mudah dipahami. Tantangan sebenarnya justru muncul setelahnya.
Pertama, petani perlu memastikan kualitas bahan baku dan proses fermentasi konsisten.
Kedua, penggunaan pada tanaman perlu memiliki pedoman dosis dan aplikasi yang jelas.
Ketiga, perlu ada pencatatan hasil. Berapa biaya yang dikeluarkan? Berapa pengurangan penggunaan input lain? Berapa hasil panen? Bagaimana kualitas produk? Berapa harga jualnya?
Tanpa pencatatan, keberhasilan akan sulit dibandingkan.
Petani bisa mengatakan tanaman terlihat lebih subur, tetapi data menjadi lebih kuat apabila dibandingkan dengan petak kontrol, dosis berbeda dan musim tanam berbeda.
Hal ini penting karena hasil penelitian tentang eco-enzyme tidak selalu seragam. Sebuah penelitian pada tanaman sawi yang diterbitkan pada 2026, misalnya, menemukan beberapa perlakuan memberikan pertumbuhan lebih baik, tetapi tidak semua kombinasi perlakuan menghasilkan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan produksi.
Dengan kata lain, eco-enzyme bukan pupuk ajaib.
Ia merupakan salah satu inovasi yang perlu ditempatkan dalam sistem pertanian secara tepat.
TTU dan Pesisir Selatan sedang membangun model belajar bersama
Yang paling menarik dari pertemuan ini justru bukan hanya eco-enzyme-nya.
Ada sebuah model kerja sama yang sedang tumbuh: pemerintah daerah menyediakan ruang, penyuluh menerjemahkan pengetahuan menjadi praktik, petani menguji di lahan, organisasi masyarakat mendampingi dan akademisi dapat membantu memberikan penguatan berbasis penelitian.
Model semacam itu penting untuk pertanian di tengah perubahan iklim.
Petani tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Dalam banyak kondisi, mereka membutuhkan teknologi yang murah, tersedia di sekitar, mudah dipelajari dan dapat disesuaikan dengan kondisi lokal.
TTU sendiri memiliki basis kelembagaan petani yang cukup besar. Data kelembagaan kelompok tani yang tersedia untuk Agustus 2023 mencatat 1.626 kelompok tani di kabupaten tersebut, terdiri dari berbagai bentuk kelembagaan seperti kelompok tani, kelompok wanita tani, kelompok taruna tani, kelompok tani dewasa dan gapoktan.
Basis kelembagaan yang besar tersebut menjadi modal sosial penting untuk memperluas inovasi apabila praktik yang dikembangkan benar-benar terbukti memberikan manfaat.
Sementara itu, Dinas Pertanian Pesisir Selatan sendiri menempatkan pembinaan petani, penyuluhan, pengembangan teknologi pertanian dan pertanian berkelanjutan sebagai bagian dari tugas pengembangan sektor pertanian daerah.
Menjaga bumi, sekaligus menjaga penghasilan petani
Pada akhirnya, gerakan pertanian berbasis eco-enzyme tidak semestinya hanya dipandang sebagai gerakan lingkungan.
Ia juga harus menjadi gerakan ekonomi petani.
Jika limbah organik dapat diolah, biaya input dapat ditekan secara rasional, tanah tetap dijaga, produksi stabil dan hasil pertanian mendapatkan harga yang layak, maka manfaatnya menjadi jauh lebih luas.
Di titik inilah tomat dan sayuran eco-enzyme binaan YNTM TTU menjadi penting. Produk tersebut bukan sekadar hasil kebun. Ia menjadi semacam uji nyata apakah gagasan pertanian ramah lingkungan mampu bergerak dari demplot menuju pasar.
Dan ketika petani Pesisir Selatan datang belajar dari TTU, pesan yang dibawa sebenarnya lebih besar daripada sekadar cara membuat pupuk.
Pesannya adalah bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus datang dari laboratorium atau teknologi yang mahal. Kadang-kadang, inovasi lahir dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai: kulit buah, sisa sayuran, limbah dapur dan pengalaman petani di kebun sendiri.
Dari sana, pengetahuan bergerak dari satu desa ke desa lain, dari satu kabupaten ke kabupaten lain.
Dari TTU ke Pesisir Selatan. Dari limbah menjadi nutrisi. Dari kebun menuju pasar. Dan dari pertanian, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan: menjaga bumi harus berjalan bersama dengan menjaga kehidupan petani. [bp]

0 Komentar