DELI SERDANG [BSOnline] — Semangat kemerdekaan terasa di Desa Selemak, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, ketika mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 17 Universitas Al-Azhar Medan bersama komunitas ROBEBES, pemuda Karang Taruna, pemerintah desa, dan masyarakat menggelar rangkaian kegiatan Gebyar HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian pengabdian mahasiswa KKN Universitas Al-Azhar Medan yang berlangsung selama Agustus 2026. Kehadiran mereka di Desa Selemak sejak 1 hingga 31 Agustus 2026 bukan hanya diarahkan untuk menjalankan program kerja akademik, tetapi juga membangun hubungan sosial dan berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Program KKN tersebut berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Sukarsih, S.E., M.M.
Gebyar HUT RI ke-81 menjadi salah satu momentum penting dalam proses tersebut. Di dalamnya terdapat pertemuan antara energi mahasiswa, pengalaman komunitas lokal, kekuatan pemuda, serta partisipasi masyarakat desa.
Dari Program KKN Menjadi Gerakan Bersama
Sejak awal berada di Desa Selemak, mahasiswa KKN Kelompok 17 melakukan pendekatan melalui silaturahmi dengan perangkat desa dan warga. Mereka melakukan observasi wilayah, mengunjungi pemukiman warga secara langsung, memetakan persoalan sosial, melihat potensi UMKM, serta mengidentifikasi kebutuhan pendidikan masyarakat.
Pendekatan tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa untuk menyesuaikan program pengabdian dengan kondisi masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak bekerja sendiri. Perangkat Desa Selemak, kelompok ibu-ibu dan pengajian, anak-anak dan pelajar, pemuda, Karang Taruna, serta komunitas lokal dilibatkan dalam berbagai kegiatan.
Kolaborasi semakin terlihat ketika mahasiswa bersama pemuda dan komunitas ROBEBES terlibat dalam persiapan kegiatan kemerdekaan.
Gotong royong dilakukan untuk membersihkan lingkungan dan lapangan, memasang berbagai atribut kemerdekaan, serta mempersiapkan rangkaian perlombaan dan kegiatan masyarakat.
Bagi mahasiswa, keterlibatan tersebut menjadi bagian dari penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Namun bagi warga, kehadiran mahasiswa juga menjadi tambahan tenaga dan gagasan dalam menghidupkan kembali ruang kebersamaan di desa.
Robebes dan Kekuatan Pemuda Desa
Kolaborasi dengan ROBEBES memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut.
Komunitas yang salah satu penggagasnya adalah Bahtiar tersebut telah menjadi salah satu ruang pengorganisasian pemuda Desa Selemak sejak 2013. Selama perjalanannya, ROBEBES terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan serta menjadi bagian dari upaya mendorong pemuda agar aktif mengambil peran di tengah masyarakat.
Karena itu, keterlibatan ROBEBES dalam Gebyar HUT RI ke-81 tidak berdiri sendiri. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang keterlibatan pemuda dalam kegiatan sosial di Desa Selemak.
Pertemuan antara mahasiswa KKN dengan komunitas lokal seperti ROBEBES menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat dapat tumbuh lebih kuat ketika program perguruan tinggi bertemu dengan pengalaman dan inisiatif yang sudah berkembang di masyarakat.
Mahasiswa membawa pengetahuan dan energi baru, sementara komunitas dan pemuda lokal memahami karakter masyarakat serta dinamika sosial di desa.
Dari pertemuan tersebut, kegiatan kemerdekaan kemudian tidak hanya menjadi agenda mahasiswa, tetapi berubah menjadi kegiatan bersama.
Pendidikan Tetap Menjadi Bagian Utama
Di balik kemeriahan Gebyar HUT RI, mahasiswa KKN Kelompok 17 juga menjalankan program pendidikan yang menjadi salah satu fokus pengabdian mereka.
Setiap sore, mahasiswa memberikan bimbingan mengaji dan pendidikan nilai-nilai keagamaan dasar kepada anak-anak di masjid, mushola, maupun posko.
Sementara pada malam hari, mereka menggelar les malam edukatif bagi anak-anak sekolah dasar dan menengah. Kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu anak-anak menyelesaikan tugas sekolah sekaligus meningkatkan kemampuan belajar dan literasi.
Program tersebut menunjukkan bahwa kegiatan KKN tidak hanya berlangsung pada momentum tertentu. Pengabdian dilakukan melalui aktivitas rutin yang menyentuh kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Pada pagi hingga siang hari, mahasiswa melakukan observasi wilayah, silaturahmi dari rumah ke rumah, berkoordinasi dengan perangkat desa di Kantor Desa Selemak, serta membantu kegiatan administrasi desa.
Sore hari digunakan untuk kegiatan pendidikan keagamaan, sedangkan malam hari menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mendampingi anak-anak belajar.
Dengan pola tersebut, aktivitas mahasiswa berjalan sepanjang hari dan berinteraksi langsung dengan berbagai kelompok masyarakat.
Empat Pekan, Empat Tahapan Pengabdian
Rangkaian kegiatan KKN Kelompok 17 selama Agustus 2026 berlangsung dalam beberapa tahapan.
Pada minggu pertama, mahasiswa melakukan penerjunan, beradaptasi dengan lingkungan posko, serta memperkenalkan diri secara resmi kepada Kepala Desa Selemak dan para kepala dusun.
Memasuki minggu kedua, program inti pendidikan mulai berjalan lebih intensif melalui kegiatan les malam dan bimbingan mengaji. Pada waktu yang sama, mahasiswa mulai melakukan koordinasi persiapan HUT RI ke-81 bersama Karang Taruna dan elemen pemuda lainnya.
Persiapan tersebut mencakup gotong royong membersihkan lapangan serta pemasangan atribut kemerdekaan.
Memasuki pekan kemerdekaan, mahasiswa terlibat dalam kepanitiaan upacara dan berbagai perlombaan 17 Agustus tingkat desa. Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan agenda malam keakraban bersama masyarakat.
Selanjutnya, pada minggu keempat, mahasiswa melakukan evaluasi program kerja, menyusun laporan KKN untuk DPL, serta mempersiapkan penutupan dan perpisahan formal dengan masyarakat Desa Selemak.
Membangun Kedekatan, Bukan Sekadar Menjalankan Program
Salah satu kekuatan dari pelaksanaan KKN di Desa Selemak adalah pendekatan langsung kepada masyarakat.
Silaturahmi dari rumah ke rumah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat kehidupan warga secara lebih dekat. Dari proses tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi mengenai kondisi desa, tetapi juga memahami bahwa setiap lingkungan memiliki persoalan, potensi, dan karakter masyarakat yang berbeda.
Pendekatan tersebut kemudian menjadi dasar untuk membangun program yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Anak-anak dan pelajar menjadi sasaran utama kegiatan pendidikan. Kelompok ibu-ibu dan pengajian dilibatkan dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Perangkat desa menjadi mitra koordinasi, sementara pemuda dan Karang Taruna menjadi kekuatan penting dalam kegiatan kepemudaan dan kemerdekaan.
Dengan demikian, KKN tidak ditempatkan sebagai kegiatan mahasiswa semata, melainkan sebagai proses membangun hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Ketika Kemerdekaan Menjadi Ruang Bertemu
Gebyar HUT RI ke-81 pada akhirnya menjadi salah satu gambaran paling nyata dari proses tersebut.
Di tengah perlombaan, gotong royong, kegiatan pendidikan, dan berbagai agenda kemasyarakatan, terdapat satu hal yang menjadi benang merah: kebersamaan.
Mahasiswa KKN, pemuda ROBEBES, Karang Taruna, pemerintah desa, dan masyarakat memiliki ruang yang sama untuk bekerja dan berinteraksi.
Momentum kemerdekaan menjadi sarana untuk memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan sosial sekaligus mempererat hubungan antargenerasi.
Bagi masyarakat, kegiatan tersebut menghadirkan suasana perayaan yang melibatkan banyak pihak. Bagi mahasiswa, pengalaman itu menjadi bagian dari pembelajaran bahwa pengabdian tidak hanya diukur dari seberapa banyak program yang dilaksanakan, tetapi juga dari seberapa jauh masyarakat ikut terlibat.
Dan bagi gerakan pemuda Desa Selemak, kolaborasi tersebut kembali memperlihatkan pentingnya menyediakan ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran.
Jejak yang Diharapkan Tidak Berhenti
Selama dari tanggal 1 Agustus 2026 hingga 17 Agustusan, Mahasswa berahir tanggal 31 Agustus 2026 kedepan masih berada di Desa Selemak, mahasiswa KKN Kelompok 17 Universitas Al-Azhar Medan tidak hanya meninggalkan sejumlah program kerja. Mereka juga membawa pulang pengalaman tentang bagaimana masyarakat desa bergerak, bekerja sama, dan menjaga ruang sosialnya.
Sebaliknya, masyarakat memperoleh pengalaman baru dari interaksi dengan mahasiswa serta berbagai kegiatan yang mereka jalankan.
Gebyar HUT RI ke-81 menjadi salah satu puncak dari rangkaian interaksi tersebut. Namun, kegiatan itu bukan akhir dari cerita.
Di balik kemeriahan perayaan kemerdekaan, terdapat jejaring sosial yang lebih luas—mulai dari perangkat desa, pemuda, ROBEBES, Karang Taruna, kelompok ibu-ibu, pelajar, hingga tokoh masyarakat dan penggerak lingkungan.
Jejaring inilah yang menjadi modal penting bagi keberlanjutan berbagai gerakan sosial di Desa Selemak.
Bagi mahasiswa KKN, pengabdian selama Agustus 2026 mungkin memiliki batas waktu. Namun, hubungan yang terbangun dengan masyarakat dan pengalaman yang diperoleh selama proses tersebut diharapkan dapat menjadi pengetahuan yang terus dibawa setelah mereka meninggalkan Desa Selemak.
Dari ruang belajar, masjid, posko, lapangan desa hingga Bank Sampah SMJ, mahasiswa menemukan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya tentang memberikan sesuatu, tetapi juga tentang belajar dari masyarakat dan membangun sesuatu bersama.
Dan di Desa Selemak, cerita tentang kolaborasi tersebut masih terus berlanjut.



0 Komentar